Tuesday, April 17, 2012

Pertaruhan

...
Padahal, manusia terlahir ke dunia dibungkus rasa percaya. Namun, di detik pertama kita meluncur keluar, perjudian hidup dimulai. Taruhanmu adalah rasa percaya yang kau lego satu per satu demi sesuatu bernama cinta.
Aku penjudi yang buruk.
Aku tak tahu kapan harus berhenti dan menahan diri. Ketika cinta bersinar gemilang menyilaukan mata, kalang kabut aku serahkan semua yang kumiliki. Kepingan rasa percaya bertaburan diatas meja taruhanku.
...

(Dee. Supernova: Partikel)

Monday, April 16, 2012

No bargain, Woiy!

Ini bukan postingan SARA, lho. Sekali lagi, ini bukan postingan SARA. Ini pengalaman 'ngasal' saya dulu di kota Bangkok, waktu saya dapat pelajaran bahwa cina mabok yang dagangannya ga laku dari pagi bisa bikin jantungan. Sumpah!

Waktu itu hari-hari pertama saya sampai di Negeri Gajah Putih. Kebetulan si Uda, abang ipar saya, juga sedang ada pekerjaan di Bangkok dan Krabi. Kami janjian ketemuan di Bangkok mau jalan-jalan, karena secara de facto dan de jure dia lebih kenal kota Bangkok dibanding saya.

Berdua dengan teman saya, Vee, kami berangkat pagi dari asrama, naik Sky Train (it is how Thai's people called their monorail as SMRT for Singaporeans) ke Bangkok downtown nyamperin si Uda di hotelnya.

Niatnya, kita mau ke Sleeping Budha dan Thai's heritage sites lainnya. Tapi hujan deras turun tiba-tiba. Akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan keliling mall di pusat kota sambil shopping saja, karena saya punya misi mulia untuk belanja pernak pernik khas Thailand. Standar turis Indonesia banget deh, yang kebanyakan duit jalan-jalan ke luar negeri borong ini itu. Padahal kita kesini untuk menuntut ilmu. Kok ya agak kurang tau diri, gitu. Hehe.

Awalnya, kami masuk mall sekalian cuci mata dan agar tidak kena hujan. Fyi, mall-mall di pusat kota Bangkok dempetan banget saking ramenya dan selalu ada connecting way antar mall. Setelah mengalami stres yang lumayan parah selama window shopping karena harus mengkalkulasi kurs Baht ke US Dollar kemudian ke Rupiah (dan ternyata ga ada yang 'mure' disini), saya kembali memaksa si Uda jalan ke pasar tradisional yang berada di sekitar mall. Harga barang disana seharusnya lebih murah dan manusiawi untuk kantong mahasiswa kere macam saya.

Di pasar emperan ini emang lebih seru, lebih rame, barangnya lebih banyak. Hiruk pikuk khas pasar membuat atmosfirnya terasa lebih bersahabat. Terlihat transaksi tawar menawar dimana-mana. Meski terhalang bahasa, pembeli dan penjual berkomunikasi lancar dengan kalkulator cabe. Angka-angka sepertinya berlaku lebih universal disini daripada standard gesture seperti anggukan atau gelengan kepala. Well, kalo di pasarnya orang India, bakal lebih kompleks lagi permasalahannya. You're gonna confused by translating their nodded head to 'yes' or 'no', et vice versa. Ups, sekali lagi, ini bukan postingan SARA lho. :p

Aaanyway, saya seketika tidak merasa asing lagi. Langsung feel blended dan ikut nanya, nawar, beli, poto-poto. Hehe.

Memasuki sebuah lorong pasar dekat Hard Rock Cafe, kami disambut lapak kecil yang penuh dengan asesoris etnik Thailand. Saya langsung berhenti di depan lapak sambil mengagumi pernak pernik itu.

"Hoo, jeebf diwndmsao wdjieda zwi?"
Sapaan tiba-tiba (dengan bahasa antah berantah) itu membuat saya kaget dan menyadari kehadiran Si Penjual di sebelah kiri kami, tipikal kokoh-kokoh cina berkaus oblong putih dengan mata merah mengantuk dan muka lipet tujuh alias ga senyum. Saya langsung pasang muka ramah sambil mengambil sebuah gelang dan menyodorkannya ke Si Kokoh.

Saya tanya, "This, how much?"
"O, ahd sfdnak iadhb," jawabnya sambil mengacungkan empat jari. Mukanya tetep lipet tujuh.
Koh, ane kaga ngarti. Saya tanya lagi, "How much?"
"Sekian." Jawabnya singkat.

Saya sebenarnya sudah merasa bahwa penjual yang ini tidak ramah, tidak seperti penjual-penjual yang sudah saya tawari barangnya sedari tadi. Tapi entah kenapa saya keukeuh. Mungkin tabiat emak-emak melekat demikian kuat dalam naluri saya.

Saya nekad nawar, "Segini, mau ga?"
"Ha, that can not," jawabnya sambil geleng--geleng kepala.
Saya keras kepala melanjutkan, "Come on, please, segini ya?"
"No! I say that can not!" Suara kokoh itu tiba-tiba meninggi.
Saya baru mau buka mulut lagi, ketika dia tiba-tiba membentak dengan suara keras.
"I say no! No bargain! Bfd sadbfisfdiw aidnsnd sifni."

Saya kaget. Sesaat ga tau mau bilang apa. Penjual itu terus ngomel-ngomel dalam bahasa yang saya tidak mengerti sambil mengangkat tangannya, mengusir saya seperti mengusir anak ayam. Hus..huss. Saya terperangah sampai tidak sadar saya sudah ditarik oleh Si Uda dan Vee dengan paksa setengah berlari menjauhi si Kokoh yang marah-marah itu.

Saya mengikuti mereka berlari kecil sambil masih shock. Seumur hidup, baru kali ini saya diusir secara tidak beradab seperti itu oleh seseorang. Seorang pedagang lagi. Biasanya para pedagang akrab sama saya, karena saya suka beli dagangan mereka. Pedagang pentol, mpek-mpek dan es jaman saya masih SD dan SMP dulu aja masih suka inget sama saya sampe sekarang kalo saya ketemu ga sengaja pas pulang kampung. Haiyaah. Sebel.

"Hahaha..."
Suara ketawa si Uda, abang saya membuat saya sadar. Saya speechless melihat dia ketawa sambil pegang perut, membuka sunglass-nya sambil mengucek mata yang berair karena ketawa saking gelinya. Vee, teman saya yang tercinta, mukanya ga jelas antara mau ketawa tapi kasian sama saya.
Saya mengumpat, "Gilak tuh, Cina! Ngapain coba tiba-tiba marah."
"Kayanya dia mabok deh, tadi Uda liat botol minum di dekat tempat duduknya."
"Oya?"
"Hooh, dagangannya juga belom laku dari pagi, kali. Kesel lah dia Sari nawar-nawar gitu. Hahaha." Abang saya masih ketawa geli.
Saya mengumpat lagi, "Sialan!"
"Hahaha.."
"Hahaha.."
"Hahaha.."

Akhirnya, saya ikut tertawa geli sambil masih menyumpah-nyumpah. Pengalaman pertama ni yee dikasarin cina mabok. Haha. Nafsu belanja saya sudah hilang. Bete sama si cina gilak membuat saya lapar. Setengah hati saya menyesali, mending tadi jadi ke Sleeping Budha saja. Hahaha.