Jumat, hari terakhir 2010.
Melalui lorong kantor yang redup cahaya dan sepi, aku melangkah pelan, menghitung setiap langkah menuju gerbang pulang. Aku sengaja menunggu. Aku ingin sendiri. Tidak ada teman menjajari langkahku, mereka sudah berkumpul untuk makan malam sejak tadi. Mereka menungguku, aku tahu. Telepon genggamku tidak berhenti berbunyi dari tadi.
Tidak ada seorang pun bersamaku, aku sendiri. Tidak ada yang akan menahanku jika sekarang aku menangis, teriak, tertawa, mengumpat, menyanyi keras-keras.
Tapi aku memilih diam. Dan terus melangkah. Mencari pintu keluar. Pulang.
Diam.
Seperti pilihanku untuk membiarkan semua berlalu. Aku tidak harus menahan marahku, aku tidak ingin melampiaskan ketidakpuasanku. Aku ingin semua berlalu. Semua memang harus selesai disini. Memang begini seharusnya.
Tidak pula ada alasan yang tepat untuk merasa kecewa. No need.
Aku tidak bisa mengenyahkan kalimat yang melekat dikepalaku sedetik setelah aku mendengarnya. "Gue bukannya nggak percaya keajaiban, Sar. Tapi, dalam hidup kita harus realistis.."
Aku melangkah. Aku sudah memilih. Ini, adalah air mata terakhir untuk dia.
No comments:
Post a Comment