Tuesday, February 08, 2011

Menunggu Bis

Tidak mau selalu dicela sebagai 'pengguna taksi sejati' atau 'kemana-mana selalu naik taksi' atau 'ga bisa susah siiih..', saya dengan semangat yang menggebu-gebu mengiyakan ajakan teman-teman untuk bertualang naik bus/angkutan umum ke Pondoh Indah Mall.

Aneh sebenernya.

Mo nongkrong ke mall, mall Pondok Indah lagi, tapi bela-belain naik bus umum yang jalannya muter-muter kemana-mana, while in fact, dari rumah ke pondok indah itu cuma tinggal ambil jalan luruuuuus aja, 15 menitan juga nyampe. Yah, ga pake angkutan tentunya. Lagipula, kebiasaan saya naik taksi selama ini pun adalah hasil pertimbangan efisiensi jarak dan waktu, jadi, bukan sembarangan ngabis-ngabisin duit aja. Tapi, ah, pokoknya ribet aja kalo mau berdebat dengan teman-teman saya ini. Ujung-ujungnya saya pasti di ejekin; Ga bisa susah siiih....

So, there we go!

Dari rumah ke jalan raya, kami jalan kaki. Nyampe di halte, kami menunggu sambil duduk manis, bis dengan nomor XYZ. Well, saya menunggu dengan tegak manis, karena berusaha membelakangi jalan raya karena saya sedang batuk alergi angin dan debu Jakarta yang oh-my-god.

Sekian lama menunggu, bis XYZ yang kami tunggu tidak kunjung datang.

Yang ada justru bis nomor ABC, DEF, GHI, JKL, dll sebagainya berseliweran grasa-grusu di depan kami. Kami mencoba bersabar. Saya mencoba menahan kantuk dan lapar dan pengen pipis dan pengen batuk sekeras-kerasnya.

Sekian lama lagi waktu berlalu.

Saya menghela napas dengan suara yang dikeraskan dengan sengaja. Teman-teman memasang muka pura-pura tidak tahu. Saya batuk-batuk. Mereka ketawa-ketawa. Bis ABC dan teman-temannya terus lewat di depan kami.

Akhirnya, ditengah penantian yang tidak pasti, udara siang Jakarta yang makin panas dan perut yang mulai lapar, salah seorang diantara kami menyerah, nyeletuk, 'Tuh, ada bis. Ga keliatan nomor berapanya. Tapi kalo ini masih ABC kita naik aja ya, nanti kita ganti bis aja di Blok M. Pokoknya, ga ada cerita naik taksi. Seribet apapun kita ke pondok indahnya naik angkutan umum!"

Saya pengen ketawa sekaligus sebel, ngeyel amat sih anak-anak ini? Tapi demi kepentingan bersama, saya angguk-angguk kepala ikut setuju.

Bis yang kami cermati dari kejauhan itupun mendekat. Kami H2C. Harap-harap cemas maksudnya. Bis itu semakin dekat. Ketika nomornya bisa dibaca, kami saling berpandangan. It's the famous ABC, sodara-sodara! Bis yang sebenarnyatidak kami harapkan. Sambil senyum-senyum ga berani komentar, kami lalu mengayunkan tangan, menyetop bis agar berhenti. Ya sudahlah, naik saja. Sudah kesepakatan bersama bukan?

Tapi, apa yang terjadi sungguh tidak bisa diprediksi.

Bis itu jalan terus. Jalan terus! Sopir bus dan kondekturnya hanya melihat sekilas pada kami. Entah kami yang terlambat memberikan tanda, atau memang bisnya tidak bisa berhenti karena lalu lintas memang lumayan rame. Kami melongo tidak percaya. Kemudian saling berpandangan.

Haha.

Kami tertawa bersama, geli sendiri, mentertawakan kekonyolan kami. Salah seorang dari kami nyeletuk lagi, "Ya sudahlah, Itu ada lagi tuh kayaknya. Kalo ABC lagi, kita naik aja, langsung maju ke jalan. Ga bakal ada nih bis XYZ nya."

Kami manggut-manggut setuju, masih sambil tertawa mengingat sudah hampir sejam berdiri di pinggir jalan, and got nothing, and being left by ignorance, instead. Hihi.

Bis terakhir ini mendekat dan semakin dekat. Posisi kami kami sudah fifty fifty, setengah di jalan setengah di trotoar. Bersiap-siap seperti pengamen menunggu lampu merah. Sudah berserah pada takdir, apapun yang dikirimnya untuk membawa kami sampai ke Pondok Indah.

Ketika jarak antara kami dan bis semakin dekat, kami sekali lagi melongo takjub. Kali ini melongo karena kagum sendiri. Ternyata, yah, ternyata bis harapan terakhir ini adalah bis XYZ! Bis yang kami tunggu-tunggu dan harapkan kehadirannya sejak semula! Sesaat, saya merasa waktu seperti berhenti sesaat. Inilah takdir, bisik suara di salah satu sudut hati.

Aduh, maap, jadi lebay deh. Hehe.

Singkat kata, kami naik bus itu dengan suara ribut tertawa takjub dan kagum sendiri sambil bertukar komentar, "Wih, ajaib banget yak kita bisa dapet bis ini akhirnya. Ckckck.."

Selama perjalanan menuju Pondok Indah, yang tidak perlu diceritakan sukadukanya karena sungguh konyol dan enggak banget, saya terus teringat kejadian menunggu bis XYZ ini. Rasanya, ada hikmah yang tidak ingin saya tinggalkan begitu saja, ingin saya abadikan sebagai reminder, sebagai pengingat dan alat muhasabah setidaknya untuk diri saya pribadi.

Begitulah, kita, manusia-manusia mortal yang dihukum oleh ketidakpastian waktu. Waktu yang terwujud dalam bentukan-bentukan sangat jamak. Waktu yang terkadang kita ciptakan sendiri sebagai batas. Waktu yang disediakan tuhan sang pencipta dalam sebuah ruang ketidakpastian yang sangat besar. Waktu sebagai keniscayaan yang pasti, misteri terbesar yang -saya yakin- tidak akan pernah kita bisa pecahkan.

Bagaimana waktu bisa memuai, memanjang atau memendek sesuka-sukanya. Membuat kita ingin memulai sesuatu, atau, menghentikan sesuatu.

Atau, memaksa.

Membuat kita ingin melawan kemudian menyerah kepada keniscayaannya. Kadang-kadang, membuat kita lupa dengan keterbatasan kita. Bahkan membuat kita lupa kepada Nya, sang pemilik waktu, yang dengan segala kemahabijaksanaannya dan ke mahapastiannya, sesungguhnya telah menyusun garis-garis paling baik bagi perjalanan waktu makhluk ciptaannya.

Kita lupa. Kadang-kadang lupa. Seringkali lupa. Ketika sesuatu akhirnya datang pada waktunya, sesuai pada saat terbaiknya, kita takjub dan kagum sendiri. Merasa ajaib dan terpukau. Padahal, yang kita perlukan dari awal, hanyalah keyakinan dan kesabaran.

Akhirnya kami sampai di Pondok Indah dua jam kemudian.

Hehe.

Well, satu pelajaran lagi, ketidakbijaksanaan memilih telah membuat kami membuang waktu sekian banyak. Tapi, at least, kami jadi belajar lagi hari itu, about how to reach Pondok Indah Mall by bus. Penting banget emang. :)

Monday, January 03, 2011

Keajaiban

Jumat, hari terakhir 2010.
Melalui lorong kantor yang redup cahaya dan sepi, aku melangkah pelan, menghitung setiap langkah menuju gerbang pulang. Aku sengaja menunggu. Aku ingin sendiri. Tidak ada teman menjajari langkahku, mereka sudah berkumpul untuk makan malam sejak tadi. Mereka menungguku, aku tahu. Telepon genggamku tidak berhenti berbunyi dari tadi.
Tidak ada seorang pun bersamaku, aku sendiri. Tidak ada yang akan menahanku jika sekarang aku menangis, teriak, tertawa, mengumpat, menyanyi keras-keras.
Tapi aku memilih diam. Dan terus melangkah. Mencari pintu keluar. Pulang.
Diam.
Seperti pilihanku untuk membiarkan semua berlalu. Aku tidak harus menahan marahku, aku tidak ingin melampiaskan ketidakpuasanku. Aku ingin semua berlalu. Semua memang harus selesai disini. Memang begini seharusnya.

Tidak pula ada alasan yang tepat untuk merasa kecewa. No need.

Aku tidak bisa mengenyahkan kalimat yang melekat dikepalaku sedetik setelah aku mendengarnya. "Gue bukannya nggak percaya keajaiban, Sar. Tapi, dalam hidup kita harus realistis.."

Aku melangkah. Aku sudah memilih. Ini, adalah air mata terakhir untuk dia.